Senin, 05 Mei 2014

INVENTORI KEPRIBADIAN LAPORAN DIRI


    Dalam terminology psikometri konvensional “tes-tes kepribadian” adalah instrument untuk mengukur cirri-ciri emosi, motivasi, antarpribadi, dan sikap yang dibedakan dari kemampuan. Jumlah tes kepribadian yang ada mencapai ratusan buah. Yang paling banyak adalah inventori kepribadian dan teknik-teknik proyektif. 

  Diantara prosedur- prosedur utama yang digunakan dewasa ini adalah pendekatan-pendekatan yang didasarkan pada relevansi isi, pemasukan criteria empiris, analisis factor dan teori kepribadian.

1. PROSEDUR-PROSEDUR YANG TERKAIT DENGAN ISI

    Prototype inventori kepribadian laporan diri adalah lembar data pribadi Woodworth, yang dikembangkan untuk digunakan selama perang dunia I . sesuai dengan itu Woodworth mengumpulkan informasi yang menyangkut simpton neurotis da praneurotis dari kepustakaan psikiatris seperti halnya melalui konferensi dengan para psikiater. Dalam seleksi akhir atas butir- butir soal-soal ini, Woodworth menerapkan pemeriksaan statistic.contoh modern dari pendekatan yang terkait dengan isi terhadap perkembangan inventori laporan diri adalah Sympton Checklit 90 Revised ( SCL 90 R-Derogatis 1994). SCL 90 dirancang untuk menyaring masalah- masalah sosial dan simpton psikopatologi. Keuntungan utama dari pendekatan terkait dengan isi pada perkembangan inventori kepribadian terletak pada kesederhanaan dan sifat langsung dari metode ini.

MINNESOTA MULTIPHASIC PERSONALITY INVENTORY

Contoh terkenal tentang pemasukan criteria empiris dalam penyususnan tes kepribadian adalah Minnesota multiphasic personality inventory (MMPI). Dihasilkan pada tahun 1930-an oleh Starke R. Hathaway, seorang psikolog klinis dan J. Charnley McKinley, seorang neuropsikiater, MMPI pada awalnya diterbitkan sebagai rangkaian artikel pada tahun 1940-an untuk berfungsi sebagai alat bantu dalam proses diagnosis psikiatris.

MINNESOTA MULTIPHASIC PERSONALITY INVENTORY 2

Butir butir soal MMPI-2 terdiri dari 567 pernyataan afirmatif yang ditanggapi peserta tes “benar” atau “salah” . butir-butir soal mempunyai rentang luas dalam isi, mencakup motorik, sikap sksual, politis, dan sosial; pertanyaan-pertanyaan tentang pendidikan, pekerjaan, keluarga dan pernikahan serta banyak manifestasi perilaku neurotis atau psikotis yang dikenal, seperti keadaan obsesif dan kompulsif, delusi, halusinasi, ide-ide rujukan, fobia, kecenderungan sadistis serta masokis.

MINNESOTA MULTIPHASIC PERSONALITY INVENTORY ADOLESCENT

MMPI-A adalah bentuk baru MMPI yang dikembangkan secara spesifik untuk digunakan pada remaja. Butir- butir soal dan skala mencakup bidang yang secara spsifik relevan bagi mereka, seperti masalah sekolah dan keluarga dan diatas segala-galanya, persyaratan norma kecocokan usia.

CALIFORNIA PSYCHOLOGYCAL INVENTORY

CPI dikembangkan secara khusus untuk digunakan pada populasi orang dewasa. Dalam revisi terakhir, CPI edisi ketiga terdiri dari 434 butir soal yang harus dijawab “ benar” atau “salah” dan menghasilkan skor pada 20 skala.

INVENTORI KEPRIBADIAN UNTUK ANAK-ANAK

Meskipun tidak menggunakan butir soal atau data MMPI, Personality Inventory for Children (PIC) disusun dengan metodologi umum yang sama seperti MMPI dan CPI. PIC dikembangkan melalui 20 tahun riset oleh sekelompok peneliti pada universitas Minnesota yang secara mendalam terpengaruh oleh dasar pemikiran dn penggunaan klinis MMPI. PIC dirancang untuk anak-anak dan remaja yang berusia antara 3 sampai 16 tahun. Perbedaan utama antara PIC dan MMPI berhubungan dengan cara informasi itu diperoleh; butir- butir soal kuesioner benar salah dijawab tidak hanya oleh anak bersangkutan, tetapi oleh remaja yang pengetahuannya luas,  biasanya si ibu. Prosedur ini konsisten dengan praktik umum dalam klinik anak-anak yang mewawancarai orang tua sebagai sumber informasi utama tentang masalah dan sejarah kasus anak. Inventori ini sesungguhnya menyediakan cara sistematis untuk mengumpulkan informasi semacam itu dan menafsirkannya dalam kaitan dengan data normative dn diagnosis.

2. ANALISIS FAKTOR DALAM PENGEMBANGAN TES

KUESIONER ENAM BELAS FAKTOR KEPRIBADIAN (16 PF). Berdasarkan riset factorial mereka, Cattel dan rekan-rekan kerjanya telah mengembangkan sejumlah inventori kepribadian, dan yang paling dikenal adalah Sixteen Personalty Factor Questioner yang sekarang sudah memasuki edisi kelima. Diterbitkan pertama kali pada tahun 1949, 16 PF dirancang untuk umur 16 keatas dan menghasilkan 16 skor dalam cirri- cirri seperti keberanian sosial, dominasi, kewaspadaan, stasibilitas emosional, dan kesadaran peraturan.

MODEL LIMA FAKTOR.  Model lima factor telah mengembangkan sebuah tes yang cocok dengan versi model mereka. Dalam edisi sekarang, Revised NEO Personality Inventory” yaitu:
NEUROTISME        EKSTRAVERSI       KETERBUKAAN TERHADAP PENGALAMAN
1.Kecemasan            1. Kehangatan                           1. Fantasi
2.Permusuhan           2.suka berteman                         2. Estetika
3.Depresi                  3.sifat asertif                              3. Perasaan
4.Kesadaran diri       4. Aktivitas                                4. Tindakan
5.Sifat impulsive        5. Mencari kesenangan              5. Gagasan
6.Kerentanan            6. Emosi positive                       6.  Nilai

KECOCOKAN                                   SIKAP HATI-HATI
1.kepercayaan                                   1. kompetensi
2. sikap terus terang                           2. tatanan
3. altruism                                          3. Sikap memenuhi tugas
4. kerelaan                                         4. pencapaian
5. kesederhanaan                               5. Disiplin diri
6. hati yang lembut                             6. pertimbangan

Sumber: Anastasi Annne, Urbina Susanna. Tes Psikologi. 2007. Jakarta: PT: Indeks


Selasa, 29 April 2014

MENGUKUR MINAT DAN SIKAP


INVENTORI MINAT: TINJAUAN DAN PENEKANAN

   Diantara banyak inventori minat, berikut akan dibahas empat inventori karena mencakup dalam orientasi teoritis, metodologi atau jenis populasi yang akan dirancang.

1.Jackson Vocational Interest Survey (JVIS).
 JVIS diseleksi untuk mendapat perhatian khusus pertama karena JVIS merupakan ontoh dari penyusunan tes yang canggih dan yang kedua dari aspek pendekatannya berlawanan secara tajam dengan yang diikuti SII ( Strong interest inventory). Jakson menggunakan area minat yang luas dalam pengembangan butir soal dan system penentuan skor. Inventori Jakson merupakan contoh validasi konstruk pada tiap tahap pengembangannya.  Langkah pertama  dalam pengembangan JVIS adalah merumuskan konstruk-konstruk atau dimensi- dimensi yang harus diukur.  Langkah kedua yaitu menguji coba berturut-turut dan analisis statistic atas butir- butir soal yang telah dipersiapkan sesuai dengan spesifikasi terinci.
2. Kuder Ocupational Interest Survey.
Inventori-inventori minat yang dikembankan oleh Frederick Kuder.  Yang paling awal adalah Kuder Preference Record –vocatioanal, yang pendekatannya pada pengukuran minat dibedakan dari pendekatan Strong dalam 2 hal utama.pertama, Kuder menggunakan butir-butir soal tiga serangkai pilihan terbatas, dengan responden mengindikasikan yang mana dari tiga kegiatan itu, yang paling disukai dan mana yang paling kurang disukai. Kedua, skor-skor tersebutdiperoleh untuk tidak pekerjaan tertentu, melainkan untuk 10 bidang minat yang luas yaitu di luar ruangan, mekanis, pekerjaan, ilmiah, persuasive, artistic, sastra, music, kerja sosial, dan administrasi. Versi tebaru Kuder Occupational interest survey (KOIS), memberikan skor-skor rujukan pada kelompok- kelompok pekerjaan spesifik akan tetapi KOIS tidak menggunakan kelompok rujukan umum.
3. Career assessment inventory- the vocational version ( CAI-VV). Pertam kali dikeluarkan pada tahun 1975, CAI secara dekat mengikuti pola inventori Strong. CAI dirancang secara khusus untuk para penvcari karier yang tidak memerlukan pendidikan universitas selama empat tahun atau pelatihan professional lebih jauh. CAI berfokus pada berfokus pada pekerjaan yang melibatkan keterampilan, pekerjaan teknis, dan pekerjaan jasa. Contoh dari skala-skala pekerjaan yang sekarang tersedia antara lain adalah montir pesawat, petugas kesehatan gigi, petugas kafetaria, pemprograman computer, dan perawat terdaftar.
4. self-directed search ( SDS). Instrument dikembangkan oleh Holland, yang model segienamnya tentang tema- tema pekerjaan umum telah menarik perhatian luas dan dimasukkan dalam berbagai inventori yang ada sekarang.  SDS dirancang sebagai instrument konseling pekerjaan yang bisa dilaksanakan sendiri,  diskor sendiri, dan diinterpretasikan sendiri. Meskipun di seputar minat, prosedur ini juga memerlukan peringkat- diri kemampuan dan kompetensi yang dilaporkan.


SURVEI PENDAPAT DAN SKALA SIKAP

- Sifat instrument. Sikap sering didefinisikan sebagai tendensi untuk beraksi secara menyenangkan ataupun tidak menyenangkan terhadap sekelomok stimuliyang ditunjuk, seperti kelompok etnis atau kelompok nasional. Adat istiadat atau lembaga. Skala-skala sikap di pihak lain umumnya menghasilkan skor total yang menunjukkan arah dan intensitas sikp individu terhadap perusahaan, kelompok orang, kebijakan, atau stimulus lain. Dalam penyusunan skala sikap, pertanyaan-pertanyaan berbeda diranvang untuk mengukur sikap tunggal atau variabel unidimensional, dan prosedur-proedur objektif biasanya ditempuh untuk mendekati sasaran ini. Skala sikap karyawan, misalnya, menghasilkan skor tunggal yang menunjukkan tingkat kepuasan kerja individu atau keseluruhan sikap terhadap perusahaan.

- Jenis- jenis skala sikap utama. Dalam semua skala sikap, responden mengindikasikan kesepakatan atau ketidaksepakatan mereka dengan rangkaian pernyataan tentang objek sikap itu. Prosedur- prosedur khusus telah diranvcang untuk mencapai homogenitas butir- butir soal, kesamaan jarak antara unit-unit skala, komparabilitas skor skor dari skala ke skala.Skala tipe Guttment awal mulanya dikembangkan sebagai teknik untuk menemukan apakah rangkaian pernyataan sikap itu homogen. Dalam pengertian Guttmen, sekala semurna ada jika seorang responden setuju dengan pernyataan tertentu atas sikap tertentu yang juga cocok dengan pernyataan yang lebih ringan.

·   - Catatan atas variabel dan ukuran terkait dengan jenis kelamin. Sebagaimana ditunjukkan Betz, konsep- konsep eksplanatoris global untuk perbedan terkait dengan jenis kelamin seperti pern jenis kelamin atau maskulinitas atu feminimitas, umumnya tetap tak mendapat dukungan dari temuan temuan emiris. Menurutnya, untuk memacu kemajuan lebih jauh, perlu dilakukan banyak hal di bidang konseptualisasi dan definisi konstruk yang cermat yang dapat ditempatkan dalam kerangka teoritis yang bermakna dan koh                       

      Sumber:  Anastasi Annne, Urbina Susanna. Tes Psikologi. 2007. Jakarta: PT: Indeks




Jumat, 04 April 2014

TES POPULASI KHUSUS

     Pada pertemuan kali ini, akan dibahas mengenai tes populasi khusus, let"s learn!!!

TES-TES UNTUK POPULASI KHUSUS

     Tes populasi khusus adalah tes-tes yang digunakan untuk mengukur dari sisi usia, dsb, dan normal atau tidak normalnya seseorang. Maksudnya adalah tes ini dikembangkan untuk digunakan kepada orang yang tidak bisa diukur dengan cara yang biasa atau alat ukur tradisional. Misalnya seseorang yang memiliki pendengaran yang lebih, tetapi memiliki kekurangan dibagian lain. Contoh: tes untuk penyandang cacat, tuna grahita, tuna netra, dll.
  
   Tes ini dikembangkan untuk orang-orang yang tidak bisa diuji dengan menggunakan cara-cara yang biasa. Instruksi bisa diberikan lewat demonstrasi, gerak tubuh, dan pantomin.
    * Prototipe tes  kelpompok nonbahasa adalah Army Examination Beta, yang digunakan untuk merekrut       orang berbahasa asing dan buta huruf. Selanjutnya tes nonbahasa ini digunakan untuk anak sekolah dasar       dan prasekolah, dan buta huruf. Tes ini diselenggarakan secara individual.

contohnya: Akhir-akhir ini sering juga muncul pemberitaan tentang orang tunanetra dengan prestasi tinggi, misalnya mereka yang dapat mengoperasikan komputer dengan baik, atau berhasil meraih gelar akademik yang prestisius, atau berhasil dalam karir profesionalnya. Masyarakat sering memandang pencapaian seperti ini sebagai "langka tetapi nyata", sesuatu yang mengagumkan. Pemberitaan seperti ini tidak berhasil mengubah stereotipe negatif tentang ketunanetraan, karena di balik kekaguman itu tersirat pikiran bahwa orang tunanetra pada umumnya tidak dapat atau tidak seharusnya demikian, sehingga bila masyarakat melihat contoh orang tunanetra melanggar ekspektasi negatif tersebut, itu hanya dipandang sebagai kasus kekecualian. Dengan kata lain, ekspektasi masyarakat terhadap orang tunanetra masih tetap rendah.
Gambaran di atas menunjukkan bahwa masyarakat masih cenderung memposisikan orang-orang tunanetra sebagai kelompok yang oleh Pedersen (1981) disebut sebagai populasi khusus (special population), yaitu kelompok minoritas yang sering dihambat aksesnya ke berbagai layanan umum termasuk layanan konseling. Studi kasus ini bertujuan menemukan apakah diskriminasi semacam ini dialami juga oleh siswa-siswa tunanetra dalam layanan konseling di sekolah menengah tingkat atas reguler di mana mereka merupakan kelompok minoritas di sekolah yang mayoritas siswanya adalah orang awam.




Sabtu, 29 Maret 2014

TES KEMAMPUAN MENTAL


Turner dan Helms (1995) mengemukakan bahwa ada dua dimensi perkembangan mental:

1. Dimensi Mental Kualitatif (Qualitative Mental Dimensions)
     Untuk mengetahui sejauh mana kualitas perkembangan mental yang dicapai seorang dewasa muda, perlu diperbandingkan dengan taraf mental yang dicapai individu yang berada pada tahap remaja atau anak-anak. Walaupun Piaget mengatakan bahwa remaja ataupun dewasa muda sama-sama berada pada tahap operasi formal, yang membedakan adalah bagaimana kemampu-an individu dalam memecahkan suatu masalah. Bagi remaja, kadang kala masih mengalami hambatan, terutama cara me-mahami suatu persoalan masih bersifat harfiah, artinya individu memahami suatu permasalahan yang tersurat pada tulisan dan belum memahami sesuatu yang tersirat dalam masalah tersebut. Hal ini bisa dipahami karena sifat-sifat karakteristik kognitif ini merupakan kelanjutan dari tahap operasi konkret sebelumnya.

2.  Dimensi Mental Kuantitatif (Quantitative Mental Dimensions)
    Biasanya, menurut Turner dan Helms (1995), untuk menge-tahui kemampuan mental secara kuantitatif diperlukan suatu pengukuran yang menggunakan skala angka secara eksak atau pasti. Dalam suatu penelitian longitudinal yang dilakukan sekitar tahun 1930 dan 1940, ditemukan bahwa taraf inteligensi cenderung menurun. Latar belakang proses penurunan ini dikarenakan perbedaan faktor pendidikan ataupun status sosial
ekonomi (status of econo-sociafy. Individu yang memiliki latar belakang pendidikan ataupun status sosio-ekonomi rendah karena jarang memperoleh tantangan tugas yang mengasah kemampuan kecerdasan sehingga cenderung menurun ke­mampuan intelektualnya secara kuann’tauf. Sebaliknya, individu yang memiliki taraf pendidikan ataupun status sosio-ekonomi yang mapan, berarti ketika bekerja banyak menuntut aspek pemikiran intelektual sehingga intelektualnya terasah. Dengan demikian, kemampuan kecerdasannya makin baik.




CATTELL DAN “TES- TES MENTAL” MENTAL

   James McKeen Cattel, psikolog Amerika menduduki tempat penting dalam perkembangan tes psikologis. Dalam artikel yang ditulis Cattel pada tahun 1890, istilah “tes mental” diunakan untuk pertama kalinya dalam literature psikologi. Artikel ini memaparkan rangkaian tes yang diselenggarakan tiap tahun bagi para mahasiswa dalam upaya menentukan tingkat intelektual. Tes-tes ini, yang diselenggarakan secara individu, meliputi ukuran-ukuran kekuatan otot, kecepatan gerakan, sensitivitas terhadap rasa sakit, ketajaman englihatan dan pendengaran, pembedaan berat, waktu reaksi,ingatan, dan sebagainya.
   Sejumlah rangkaian tes yang disusun oleh psikolog Amerika pada masa itu cenderung mencakup fungsi- fungsi  yang agak kompleks. Kraeplin (1895), yang samgat berminat pada pemeriksaan klinis atas pasien-pasien psikiatris, yang mempersiapkan serangkaian panjang tes- tes untuk mengukur apa yang dianggap sebagai factor- factor dalam pencirian individu. Tes- tes ini yang Cuma memanfaatka operasi – operasi aritmetika sederhana, dirancang untuk mengukur dampak latihan, memori, dan kerentanan terhadap kelelahan, dan penurunan perhatian.
      Dalam artikel yang diterbitka di Prancis pada tahun 1895, Binet dan Henri mengkritik sebagian  besar rangkaian tes karena terlalu indrawi dan terlalu berkonsentrasi pada kemampuan-kemampuan yang sederhana dan terspesialisasi. Mereka berpendapat bahwa, dalam pengukuran fungsi- fungsi yang lebih kompleks, sebenarnya tidak diperlukan  posisi tingkat tinggi, karena perbedaan-perbedaan individu lebih besar  dalam fungsi- fungsi ini.      

BINET DAN MUNCULNYA TES- TES KECERDASAN
       Dalam berbagai terjemahan dan adaptasi skala Binet, istilah “ usia mental (mental age) “ umumnya digunakan untuk menggantikan “ tingkatan mental” ( mental level)”. Karena usia mental adalah konsep yang begitu sederhana  sehingga mudah dipahami pengenalan istilah ini tak diragukan lagi amat berjasa mempopulerkan tes inteligensi. Bagaimanapun juga, Binet sendiri menghindari istilah “ usia mental” karena impikasi perkembangannya  tak terverivikasi dan lebih menyukai istilah “ tingkatan mental” yang lebih netral
 ( dalam Anastasi, 2007).  Instrumen Stanford -Binet  yang lebih luas dan  lebih baik secara psikometris yang dikembangkan oleh L.M Terman dan kolega- koleganya di Stanford University  diperkenalkan  istilah IQ 
( Inteligence Quotient) atau nisbah antara usia mental dan usia kronologis, pertama kali digunakan. Selanjutnya Kuhlmann-Binet, yang memperluas skala ini ke bayi usia tiga bulan. Skala ini merupakan salah satu usia awal untuk mengembangkan tes inteligensi untuk anak usia prasekolah.                               

 Sumber: 

  Hurlock, Elizabeth B. Psikologi Perkembangan. 1980. Jakarta: Erlangga
  Anastasi Annne, Urbina Susanna. Tes Psikologi Edisi Ketujuh. 2007. Jakarta: PT: Indeks.