Kamis, 27 Maret 2014

RIVIEW + KOMENTAR


      Hari ini kuliah berjalan seperti biasanya. Seperti  pertemuan- pertemuan sebelumnya awalnya kelas terasa sunyi dan sepi karena ngga banyak yang nanya ataupun mau berkomentar.  Sebelum masuk ke diskusi dan pembahasan materi yang kemaren diulas, pagi ini terlebih dahulu ngebahas  tentang PHOTO UP minggu lalu. Perlahan-lahan mulai banyak yang komentar tentang situasi, keadaan, ataupun foto yang dipilih teman- teman.
      Setiap foto pasti memiliki makna tersendiri yang menyangkut banyaknya interpretasi persepsi yang berbeda, karena setiap manusia dilahirkan dengan keunikannya masing-masing.  Foto merupakan benda mati yang mampu menguras emosi seseorang. Foto  yang menarik dan mampu mengikat hati yaitu foto yang bagus dari segi fisik meliputi aspek pencahayaan, ruangan, maupun tata letak foto itu sendiri. Serta dari segi konten foto itu sendiri meliputi tidak hanya menampilkan gambar ataupun atribut yang termuat dari depan foto, tetapi bisa mencakup dari samping, ataupun belakang foto yang menyiratkan makna foto tersebut.  Baiklah teman- teman, sekian cerita tentang PHOTO UP. Ini ceritaku, mana ceritamu???
    Lanjut ke tes individu, tes kelompok, dan tes minat. Pada pertemuan sesi ini kita bahas dahulu bakat ( aptitude),  sikap ( attitude), dan minat ( interest). Mari kita bahas pengertiannya satu per satu.

1. BAKAT merupakan  : Kondisi atau rangkaian karakteristik yang dipandang sebagai gejala kemampuan individu untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan atau serangkaian respon melalui latihan-latihan (Bennet, 1952).
     DAT TERMASUK TES BAKAT. Pada umumnya, tes bakat dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Test Special Aptitude: terfokus pada satu bakat saja. Misal mengukur bakat dibidang teknik mekanik, bakat pekerjaan tertentu (klerikal) dsb.
2. Bateries test: Terdiri dari sejumlah tes, dapat diperoleh analisis profil untuk seseorang individu (intra individu).
DAT disusun oleh George George K. Bennet & Harold G. Wesman. Pada awalnya dibuat untuk mendapatkan prosedur ilmiah dalam menilai murid-murid baik sekolah laki-laki dan perempuan, secara terintegrasi dan terstandar. Tetapi juga secara luas dipakai dalam dunia perusahaan. Tes DAT masuk sebagai test special aptitude, yang mana dikhususkan untuk mengukur bakat secara spesifik. Contoh tes lain yang mengukur tes bakat secara spesifik seperti IST (Intelligence Structural Test), FACT (Flanagan Aptitude Classification Test), GATB (General Aptitude Test Battery)dan lain-lain.

2. SIKAP merupakan :  Menurut kamus  bahasa Indonesia oleh W.J.S. Poerwodarminto pengertian sikap adalah  perbuatan yang didasari oleh keyakinan  berdasarkan norma-norma yang ada di masyarakat dan biasanya norma agama.

SIKAP DAPAT DIUKUR DENGAN METODE/TEKNIK :

- Measurement by scales --- pengukuran sikap dengan menggunakan skala --- munculah skala sikap.
-Measurement by rating --- pengukuran sikap dengan meminta pendapat atau penilaian para ahli yang        mengetahui sikap individu yang dituju.
-Indirect method --- pengukuran sikap secara tidak langsung yakni mengamati (eksperimen) perubahan sikap/pendapat yang bersangkutan.

3. MINAT Minat menurut Elizabeth B. Hurlock merupakan sumber motivasi yang menndorong untuk melakukan apa yang mereka inginkan bila mereka bebas memilih. Bila mereka melihat bahwa sesuatu akan menguntungkan, mereka merasa berminat, kepuasan berkurang minatpun berkurang.


 SALAH SATU TES MINAT YAITU Kuder Occupational Interest Survey (KOIS), memberikan skor-skor dengan rujukan pada kelompok-kelompok pekerjaan spesifik, sebagaimana inventori Strong (Kuder, 1966; Kuder & Diamond, 1979; Kuder & Zytowski, 1991). Akan tetapi, tidak seperti inventori Strong, KOIS tidak menggunakan kelompok rujukan umum. Sebaliknya, skor responden pada tiap skala pekerjaan diungkapkan sebagai korelasi antara pola minat dan pla minat kelompok pekerjaan tertentu. Survei minat ini bisa diskor di tempat atau melalui penerbit dengan sarana pengamatan optis, dan dapat juga diselenggarakan serta diskor pada mikro-komputer. KOIS sekarang menyediakan skor pekerjaan dan 10 skor minat dasar yang homogeny dan luas, diberi label Vocational Interest Estimates (VIE). VIE adalah skor-skor presentil yang ditarik dari skala-skala pendek yang ekuivalen pada 10 skor bidang minat Kuder Preference Record

Sumber: 
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PSIKOLOGI_PEND_DAN_BIMBINGAN/195807031985031-AMIN_BUDIAMIN/PENILAIAN_SIKAP.pdf




Minggu, 23 Maret 2014

TES INDIVIDU , TES POPULASI KHUSUS DAN TES MINAT

                             
TES INDIVIDU 
                                                     
     Tes yang secara tradisional disebut “tes inteligensi”, yaitu jenis tes yang dibahas adalah turunan langsung dari skala- skala Binet yang asli. Tes seperti ini dirancang untuk digunakan dalam berbagai situasi dan divalidasikan terhadap criteria yang relative luas. Diantara tes- tes inteligensi individu yang paling luas digunakan adalah skala skala Stanford- Binet adalah tes pertama yang dipaparkan dalam bagian ini.

1. Skala inteligensi Stanford- Bonet

Evolusi skala. Diantara berbagai terjemahan dan adaptasi dari tes- tes Binet awal yang muncul di AS, yang paling penting adalah Stanford Binet. Revisi Stanford pertama atas skala Simon Binet dipersiapkan oleh Terman dan kolega- koleganya di Stanford University, diterbitkan pada tahun 1916 ( Terman, 1916). Instruksi rinci untuk menyelenggarakan tes dan menentukan skor telah disediakan, dan istilah IQ digunakan untuk pertama kalinya dalam tes psikologis.

Standarisasi dan norma- norma. Sample distratifikasikan agar sesuai dengan proporsi dengan memperhatikan wilayah geografis, ukuran komunitas, kelompok etnis, dan jenis kelamin. Di samping itu, status sosial ekonomis diperiksa dalam kaitan dengan tingkat pendidikan dan pekerjaan orang tua.

Reliabilitas. Reliabilitas/ keterandalan ialah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur dapat dipercaya atau diandalkan. Hal ini berarti menunjukkan sejauh mana alat pengukur dikatakan konsisten jika dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama.

Validitas. Validitas ialah suatu indeks yang mnunjukkan alat ukur tersebut benar- benar mengukur apa yang diukur. Validitas ini menyangkut akurasi instrument.

2. Skala Kaufman

   Skala Kaufman adalah instrument klinis yang diselenggarakan secara individu, yang dirancang untuk banyak penggunaan secara khusus yang terlibat dalam pengembangan WISC-R untuk maju melampaui jarak ateoritis dan skala inteligensi yang lebih tua.

a. Kaufman Assessment Batery For Children (K-ABC)

   K-ABC dibakukan pada sebuah sample nasional terdiri dari 2000 anak-anak ( berumur dua setengah sampai dua belas setengah tahun). Kelompok- kelompok tambahan yang terdiri dari anak- anak kulit hitam dan kulit putih dites untuk mengembangkan norma- norma sosiokultural untuk ras dan pendidikan orang tua yang bisa digunakan sebagai alat bantu interpretif suplementer. Hal ini dimaksudkan untuk mengakomodasikan kebutuhan pengetesan bagi kelompok- kelompok khusus seperti anak- anak cacat dan anak- anak dari kelompok minoritas cultural dan bahasa dan untuk membantu diagnosis ketidakmampuan belajar.

 b.   Kaufman Adolescent and Adult Inteligence Test ( KAIT).
            KAIT dirancang sebagai pengukuran inteligensi untuk usia 11 sampai 85 tahun atau lebih tua.kumpulan tes ini tersusun dari sebuah skala yang dikristalisasikan, yang mengukur konsep- konsep yang didapat dari proses sekolah dan akulturasi, dan sebuah skala Cairan, yang mengukur kemampuan untuk menyelesaikan problem-problem baru.

        c.  Kaufman Brief Inteligence Test ( K-BIT)
      Tes ini dirancang sebagai instrument penyaringan yang cepat untuk memperkirakan tingkat fungsi intelektual.K-BIT mencaku rentang usia 4 sampai 90 tahun. Dinormakan secara bersama- sama dengan KAIT, K-BIT meggunakan sekitar 20 % dari sample standarisasi KAIT yang terdiri dari 2000 orang.

   3.  DAS-NAGLIERI COGNITIVE ASSESMENT SYSTEM

    Tugas-tugas CAS dirancang untuk mengukur fungsi- fungsi kognitif dasar yang dilibatkan dalam proses belajar, tetapi dianggap independen dari proses bersekolah. Ini mencakup proses pemprosesan perencanaan, perhatian, simultan dan berurutan. System ini menggunakan tes- tes verbal dan norverbal yang disajikan melalui saluran indra pendengara dan penglihatan.

TES POPULASI KHUSUS

      Tes- tes ini dikembangkan terutama untuk digunakan pada orang-orang yang tidak bisa diuji dengan cara biasa atau secara memadai dengan instrument tradisional. Secara historis, jenis- jenis tes yang disurvei dalam bab ini disebut sebagai tes kinerja nonbahasa, dan nonverbal.
1).  Pengetesan bayi dan anak- anak prasekolah
      Pemeriksaan psikologis yang tepat atas anak- anak kecil memerlukan cskupan spectrum perilaku yang luas, mencakup sifat sosial dan emosional serta kemampuan motorik, bahasa, dan kognitif lainnya. Di samping itu semakin banyak diakui adanya kebutuhan untuk mempertimbangkan sifat lingkungan anak dalam penilaian anak. Orientasi ekologis ini dicerminkan dalam beberapa instrument. Skala-skala khusus yang dirancang untuk anak-anak dan masa kanak-kanak awal serta mewakili berbagai pendekatan.
2).  Penaksiran komprehensif atas orang- orang yang terbelakang secara mental
Pengetesan anak-anak dengancacat mental atau jasmani mengalami dorongan pertumbuhan yang mencolok di Amerika Serikat, menyusun berlakunya Education For All Handicapped Children Act Of 1975. Implementasi peraturan ini membutuhkan empat proseduran dasar:
1.  Semua anak penyandang cacat harus diidentifikasi melalui instrument penyaringan pendahuluan.
2.Anak-anak yang diidentifikasi harus dievaluasi oleh sebuah tim spesialis untuk menentukan kebutuhan pendidikan tiap anak;
3.Sekolah harus mengembangkan program pendidikan yang sesuai dengan masing-masing individu untuk memenuhi kebutuhan ini;
4. Tiap anak harus dievaluasi ulang secara periodic sepanjang program itu.

3). Penyandang cacat jasmani
     Salah satu seri telaah yang paling ambisius dijalankan pada educational testing service menggunakan versi standard dan nonstandard dari college board SAT dan GRE general tes dengan empat kelas pelamar cacat yakni kerusakan pendengaran, kerusakan penglihatan, ketidakmampuan belajar, dan kerusakan fisik. Karakter-karakter psikometris yang diselidiki mencakup reliabilitas, fungsi sosial diferensial, struktur factor, dan indeks-indeks validitas lain yang terkait dengan tingkat kinerja dan kekuatan prediksi: isi tes, penentuan waktu, dan akomodasi juga dipelajari. Pada umumnya, hasil-hasilnya menunjukkan bahwa adaptasi procedural dapat dibandingkan dengan pengetesan standar dalam kebanyakan aspek, termasuk aspek skor- skor.

PENGETESAN MULTIKULTURAL

   Pada dasarnya, tanggung jawab penguji  untuk:
a.  Memperoleh informasi tentang latar belakang cultural orang yang dites.
b.  Memilih tes yang paling cocok dengan maksud penggunaan tes.
c. Menyajikan dan menyelenggarakan tes secara efektif untuk individu-individu tertentu.
d. Menginterpretasikan hasil-hasil tes dilihat dari segi latar belakang dan konteks pengalaman individu (pekerjaan, pendidikan, komunitas, dan sebagainya) untuk itulah kualifikasi peserta ujian dinilai.

Sumber:  Noor Juliansyah.,2011. Metodologi Penelitian., Jakarta:Kencana Prenada Media Group
               Anastasi Anne, Urbina Susana.,2007. Tes Psikologi Edisi Ketujuh.,Jakarta: PT Indeks.


Kamis, 20 Maret 2014

PHOTO UP



    Apa sih yang terlintas di benak kalian melihat gambar tersebut? mungkin sebagian besar mendukung pernyataan itu kan? sejujurnya gambar itu mengingatkanku.....( kok jadi curhat/ maaf). berdasarkan observasi yang saya lakukan, saya memahami bahwa photografer memberi pesan bahwa rokok membunuh   seseorang dalam arti memunculkan  penyakit yang perlahan-lahan membuat sang perokok menderita. saya memahami juga bahwa setiap yang melihatnya tidak hanya menyadari, tetapi juga memperhatikan kesehatannya, karena kesehatan merupakan aset paling berharga yang tak akan bisa dibeli lagi ketika......

KOMENTAR DISKUSI KASUS

Diskusi kasus.
     Teman- teman, pernahkah kita menyadari satu hal tentang kedisiplinan yang sering kita abaikan? Sejak dari kecil/ masuk sekolah dasar sampai sekolah menengah atas peraturan sekolah sangat ditepati (12 tahun), khususnya mengenai waktu masuk kelas. Tetapi, malahan sekarang ketika di bangku kuliah, sepertinya kebiasaan itu mulai memudar. Apa yang terjadi? Apakah karena reward dan punishment yang berbeda?entahlah. apa mungkin karena system di perkuliahan yang terkesan” bebas”, sehingga setelah menjadi seorang mahasiswa, kita merasa hebat dan mengganggap bahwa kita mampu melakukan segalanya?  Apakah kedisiplinan memengaruhi prestasi belajar ?  mari kita bahas satu per satu.

A.  Menurut teori Kepribadian

   Disiplin erat kaitannya dengan kepribadian seseorang. Kepribadian merupakan salah satu aspek yang dapat kita pelajari guna lebih memahami fenomena yang terjadi. Dari sudut pandang teori kepribadian menurut ERRICH FROMM, Secara umum kepribadian berkembang sesuai kesempatan yang diberikan masyarakatnya (manusia akan otomatis mengembangkan potensi- potensinya sesuai dasar aturan yang berlaku di masyarakat).Dalam teori sosial karakter kepribadian mempengaruhi dan dipengaruhi oleh struktur sosial dan perubahan sosial dimana individu itu hidup.Kepribadian terbentuk bagaimana individu tersebut berperilaku dalam merespon stimuli- stimuli dan tekanan- tekanan sosial. Maksudnya yaitu kepribadian berkembang sesuai kesempatan. Kita tahu bahwa kepribadian merupakan aspek psiko psikis yang dapat berubah. Menurut Fromm, kepribadian dapat berubah karena adanya factor kesempatan serta adanya tekanan- tekanan sosial. Selama 12 tahun kita dibiasakan mematuhi aturan,  apabila kita tidak mematuhinya, maka akan diberikan punishment, biasanya kontak fisik ataupun melakukan sesuatu yang tidak disukai, tetapi ketika duduk di bangku kuliah segala punishment itu sudah tidak ada lagi, karena dianggap sudah dewasa yang seharusnya mampu mengontrol diri serta mampu bertanggungjawab terhadap segala tindakan yang dilakukan.

B. Menurut teori perkembangan

    Erick Erikson dalam teorinya yaitu Teori psikososial menyatakan bahwa Hubungan psychosocial & development pada  tahap perkembangan kehidupan seseorang dari lahir sampai mati dipengaruhi oleh keadaan sosial yang berinteraksi dengan fisik & psikologis dari seseorang.  Pada tahapan Industry vs Inferiority (6-12) School Age dengan cirri- cirri
-Belajar mengontrol diri dengan tugas-tugas sekolah membuat anak produktif, atau
-Anak akan merasa inferior jika gagal dalam tugas untuk mencapai sesuatu. Sedangkan pada tahap IdentityvIdentityConfusion(12-20) Adolescence
-Rasa diri unik, ingin berperan dalam lingkungan serta usaha-usaha mencari jati diri.
-Sadar akan apa yang disuka dan tidak,kekuatan dan kelemahan sebagai masa penentu kedepan.
-Masa integrasi bakat, kemampuan, identifikasi dan adaptasi dan bertahan dengan berbagai kecemasan dan ancaman serta kendali akan impuls2nya.
-Masa transisi dari kanak2 ke dewasa, serta kegamangan dalam membangun nilai2 diri akan membuat remaja bingung siapa dan akan menjadi apa dirinya. Crisis Identity – Identity Confusion
-Kekuatan fidelity (kesetiaan),kemampuan untuk membangun rasa setia pada significant people akan memperkuat identitas.
   Melihat perbandingan keduanya, dapat disimpulkan bahwa selain kepribadian, seiring bertambahnya usia, maka semakin bertambahnya kemampuan kognitif, serta berkembangnya emosi . maka pada saat usia saat ini telah menyadari apa yang disukai dan apa yang akan dilakukan tanpa harus takut akan punishment  dan merasa mampu bertanggungjawab atas  tindakan yang dilakukan.
c.       Hubungan antara  kedisiplinan dengn prestasi belajar
    Menurut Hurlock (1991), disiplin berasal dari kata “ disciple” yang berarti bahwa seseorang belajar secara sukarela mengikuti seorang pemimpin. Sedangkan prestasi belajar menurut Winkel ( dalam Theresia,2008) berpendapat bahwa kegiatan belajar menghasilkan suatu perubahan yang pada waktu- waktu tertentu harus dievaluasi atau dinilai untuk melihat seberapa jauh perubahan yang terjadi sejalan dengan tujuan pendidikan.
   Gie ( dalam Theresia,2008) Mengungkapkan bahwa salah satu factor yang memengaruhi prestasi belajar  adalah disiplin. Disiplin memiliki aspek-aspek yaitu: ketertiban terhadap aturan, tanggungjawab,dan control diri. Dengan disiplin siswa akan memiliki kecakapan mengenai cara belajar yang baik. Berdasarkan teori yang diungkapkan Gie  bahwa melalui kedisiplinan dalam belajar, maka seorang siswa dapat mencapai hasil yang baik.

C.   Pengukuran prestasi belajar

       Menurut winkel ( dalam Theresia, 2008) berpendapat bahwa kegiatan belajar menghasilkan suatu perubahan yang pada waktu- waktu tertentu harus dievaluasi atau dinilai untuk melihat seberapa jauh perubahan yang terjadi sejalan dengan tujuan pendidikanhasil dari penilaian prestasi belajar dapat dilihat melalui buku raport yang  diberikan pada akhir semester atau catur wulan dan biasanya angka yang tercantum didalam raport merupakan nilai merupakan rata- rata yang terbobot  dari seluruh nilai yang diperoleh selama catur wulan atau semester itu berlangsung.

Sumber:   

 Feist and feist .2010.Teori Kepribadian  Edisi 7, Jakarta: Salemba Humanika.  
Hurlock, E.B.1990.Psikologi Perkembangan: suatu pendekatan rentang kehidupan , Jakarta: Erlangga.  
Widiaastuti ,T.L.(2008).Hubungan Kedisiplinan dengan Prestasi Belajar Siswa SMA Santo Bernadus             Pekalongan. Semarang : Fakultas Psikologi Universitas  Katolik Soeijapranata.
                  














Minggu, 16 Maret 2014

KONSEP DASAR TES PSIKOLOGI


 1.   PENGGUNAAAN DAN RAGAM TES PSIKOLOGI

    Secara tradisional, fungsi tes- tes psikologis adalah untuk mengukur perbedaan- perbedaan antara individu atau perbedaan, reaksi individu yang sama terhadap berbagai situasi yang berbeda. Salah satu masalah awal yang mendorong pertumbuhan tes- tes psikologis adalah identifikasi adalah orang-  orang yang terbelakang mental. Penggunaan tes klinis tes- tes terkait mencakup pemeriksaan orang-orang yang mengalami gangguan emosi parah dan masalah-masalah perilaku lainnya.
    Tes- tes psikologi menyediakan alat-alat standard untuk penyelidikan masalah- masalah yang begitu bervariasi seperti perubahan-perubahan perkembangan rentang hidup dalam individu- individu, efektivitas relative dari berbagai cara pendidikan yang berbeda- beda, hasil psikoterapi, dampak program- program kemasyarakatan, dan pengaruh variabel- variabel lingkungan hidup pada kinerja manusia.

2. APA TES PSIKOLOGIS ITU?

     Sample perilaku. Tes psikologis pada dasarnya adalah alat ukur yang objektif dan dibakukan    atas sample perilaku tertentu. Pokok lain yang harus dipertimbangkan sejak awal adalah menyangkut konsep kapasitas. Hanya dalam arti bahwa sample perilaku yang sekarang dapat digunakan sebagai indicator bagi perilaku lain di masa depan, kita dapat berbicara tentang tes yang mengukur kapasitas.
    Standarisasi.  Standarisasi menyiratkan keseragaman cara penyelenggaraan dan penskoran     tes.  Standarisasi menyangkut jumlah tempat materi yang digunakan, batas waktu, instruksi-instruksi lisan, demonstrasi awal, cara- cara menjawab pertanyaan dari peserta tes, dan setiap rincian lain  atas situasi tes. Banyak factor lain yang lebih halus bisa memengaruhi kinerja pada tes- tes tertentu. Jadi, dalam memberikan instruksi atau menyajikan masalah-masalah secara lisan, pertimbangan harus diberikan pada laju bicara, nada suara, infleksi ( perubahan suara), jeda dan ekspresi wajah.
     Langkah penting lainnya dalam standarisasi tes adalah penerapan norma- norma . kinerja pada setiap tes dievaluasi berdasarkan data empiris. Dalam proses menstandarisasikan tes . tes diselenggarakan pada sampel yang luas dan representative atas jenis orang yang memang menjadi sasaran perancangan tes tersebut. Kelompok ini, dikenal sebagai sampel standarisasi, berfungsi menetapkan norma- norma. Norma- norma semacam itu mengindikasikan tidak hanya kinerja rata- rata, tetapi juga frekuensi relative dari derajat penyimpangan yang bervariasi diatas atau dibawah rata- rata.  Jadi dimungkinkan untuk mengungkapkan berbagai tingkah superioritas dan inferioritas.
    Pengukuran kesulitan yang objektif.  Penyelenggaraan , penilaian dan interpretasi skor adalah objektif sejauh skor- skor tak tergantung pada penilaian subjektif penguji tertentu. Peserta tes manapun harus secara teoritis memperoleh skor yang sama pada tes terlepas dari siap yang kebetulan menjadi pengujinya.  Tentu saja, tidak selalu demikian situasinya karena standarisasi dan onjektivitas yang sempurna tidak didapatkan dalam praktik.  Ada cara- cara utama lainnya yang bisa mendeskripsikan tes- tes psikologis sebagai alat ukur objektif. Penentuan tingkat kesulitan adalah butir soal atau seluruh tes, didasarkan pada prosedur- prosedur empiris yang objektif.
    Keandalan. Evaluasi objektif atas tes- tes psikologis, terutama mencakup keandalan dan validitas tes dalam situasi- situasi khusus.  Keandalan tes adalah konsistensi skor- skor yang didapatkan oleh orang- orang yang sama ketika dites ulang dengan tes yang sama atau dengan tes yang ekuivalen dengan tes sebelumnya. Keandalan dapat diperiksa dengan membandingkan skor- skor yang diperoleh peserta tes yang sama pada waktu- waktu yang berbeda, atau berdasar syarat tes relevan lainnya.  Jumlah dan jenis orang yang menjadi dasar pemeriksaan keandalan seharusnya dilaporkan juga. Dengan informasi semacam ini, para peserta tes bisa memprediksi apakah tes itu akan sama andal bagi kelompok yang diharapkan menggunakan tes tersebut, atau mungkin lebih andal atau sebaliknya, kurang andal.
    Validitas. Validitas memberikan pemeriksaan langsung pada sejauh mana tes tertentu memenuhi fungsinya. Penentuan validitas biasanya memerlukan criteria independent dan eksternal  tentang apapun yang menjadi sasaran pengukuran tes tersebut. Skor orang- orang tidak sendirinya digunakan untuk maksud- maksud operasional, tetapi berfungsi hanya dalam proses pengujian itu. Jika tes itu terbukti valid dengan cara ini, tes tersebut dapat digunakan pada sampel- sampel lain tanpa ukuran kritera.  Interpretasi skor- skor tes dengan pasti akan lebih jelas dan kurang mendua jika tes- tes secara teratur dinamai berdasar hubungan- hubungan yang ditetapkan secara empiris yang melauinya tes- tes itu divalidasi.

3.  MENGAPA PENGGUNAAN TES- TES PSIKOLOGI PERLU DIKENDALIKAN?

    Di tangan penguji tes yang tidak bijaksana, atau yang bermaksud baik, tetapi tidak cukup ilmunya, tes- tes semacam ini dapat menyebabkan dampak buruk yang serius. Ada dua alasan utama untuk mengendalikan penggunaan tes- tes psikologi :
a.       Untuk memastikan bahwa tes itu diberikan oleh penguji yang memenuhi syarat dan skor digunakan dengan sepantasnya.
b.      Untuk mencegah keakrban orang dengan isi tes, yang akan membuat tes itu tidak valid lagi.
    Penguji yang memenuhi syarat.  Penguji yang memenuhi syarat, jelas diperlukan dalam setiap aspek dari tiga aspek utama situasi tes: seleksi tes, administrasi dan penskoran, dan interpretasi skor. Akan tetapi, agar tes bisa berfungsi, diperlukan evaluasi atas segi- segi teknis berdasar karakteristik- karakteristik semacam validitas keandalan, tingkat kesulitan, dan norma.
    Peran pengguna tes. Pengguna tes adalah siapapun yang menggunakan skor tes sebagai salah satu sumber informasi dalam usahanya mencapai keputusan-keputusan praktis. Pengguna, mungkin penguji atau bukan penguji yang menyelenggarakan dan menskor tes. Contoh para pengguna tes adalah guru, konselor, penyelenggara system- system sekolah, dan karyawan personalia dalam industry atau pemerintahan.
   Kondisi- kondisi khusus organisasi- organisasi professional, yang bekerja secara patungan dengan penerbit tes, semakin memerhatikan pencegahan penyalahgunaan. Contoh yang patut dicatat adalah proyek yang dijalankan oleh Test User Qualification Working Group, akrab dikenal dengan akronim TUQWoG (dalam anastasi). Sasaran utamanya adalah mengembangkan perangkat berdasarkan basis data (data based) empiris yang berisi kualifikasi esesnsial bagi para pengguna berbagai jenis tes yang dapat dimasukkan oleh penerbit ke tes dalam formulir kualifikasi pembeli tes.
       Pengamana isi tes dan pengkomunikasian informasi tes. Memastikan isi tes tertentu tidak perlu dan tidak harus mencampuri pengkomunikasian secara efektif informasi tes itu kepada pengguna tes, professional yang berkepentingan dan public umum. Pertama, komunikasi I ini cenderung menyingkirkan materi apapun yang terkait dengan tes dan karenanya menolong membantu mengoreksi miskonsepsi umum tentang tes- tes apa yang dirancang untuk dijalani dan apa arti skor- skor itu.
   Jenis kedua komunikasi itu bersangkutan dengan prosedur- prosedur teknis yang digunakan untuk menyusun dan mengevaluasi tes- tes tertentu; prosedur- prosedur teknis ini menyajikan data yang relevan tentang keandalan, validas, dan cirri- cirri psikometrik tes itu. Tujuan ketiga dari komunikasi ini adalah mengakrabkan pengguna tes dengan prosedur tes, menyingkirkan kecemasan, dan memastikan bahwa setiap orang akan mengeluarkan kemampuan terbaiknya.

4.   PENYELENGGARAAN TES

      Pemikiran dasar tes mencakup generalisasi, dari sampel perilaku yang diamati dalam situasi tes sampai ke perilaku yang tampak dalam situasi  nontes lainnya. Skor tes seharusnya menolong kita untuk memprediksi cara klien merasa dan bertindak di luar klinik, seberapa baik pelajar akan berprestasi di kuliah- kuliah universitas, dan seberapa tinggi kinerja pelamar dalam pekerjaan.

     Persiapan sebelumnya bagi para pengiji. Persyaratan satu- satunya yang paling penting bagi prosedur tes yang baik adalah persiapan sebelumnya. Persiapan waktu tes bisa dilakukan dengan berbagai cara. Menghafral instruksi verbal yang pasti adalah hal penting dalam kebanyakan tes perorangan. Bahkan dalam tes kelompok, dimana instruksi dibacakan kepada peserta tes, diperlukan keakraban terhadap pernyatan- peryantaan yang harus dibaca guna mencegah salah baca dan keraguan- raguan  dan memungkinkan cara yang alamiah dan informal selama penyelenggaraan tes.  Syarat lain yang harus dipenuhi adalah keakraban dengan prosedur tes tertentu, baik pada tes perorangan maupun kelompok.

     Kondisi- kondisi tes. Perhatian harus diberikan kepada pemilihan ruang tes yang sesuai. Ruang ini harus bebas dari suara dan gangguan yang tidak perlu, serta seharusnya memiliki pencahayaan, fentilasi, tempat duduk dan ruang kerja yang memadai bagi orang yang mengikuti tes.  Kondisi  penggunaan meja atau kursi yang bertangan misalnya,  terbukti berpengaruh penting dalam proyek tes kelompok yang terdiri dari pelajar- pelajar sekolah menengah. Kelompok yang menggunakan meja cenderung memeroleh skor lebih tinggi ( dalam Aanastasi).

     Memperkenalkan tes: pemahaman dan orientasi peserta tes.  Dalam penyelenggaraan tes, “rapor” mengacu pada upaya- upaya penguji membangkitkan minat peserta tes pada tes itu, meningkatkan kerja sama mereka, dan mendorong mereka memberikan respons secara tepat pada sasaran- sasaran tes. Dalam tes- tes bakat, sasarannya adalah konsentrasi penuh pada tugas yang diberikan dan mendorong orang- orang mengerahkan upaya terbaiknya agar bisa menunjukkan kinerjanya sebaik mungkin. Prosedur yang bahkan lebih baik adalah terlebih dulu membagikan keterangan yang menjelaskan maksud dan tujuan tes kepada peserta tes, memberikan usul- usul umum tentang cara menjalani tes dan memuata beberapa sampel soal tes. Buku kecil semacam ini biasanya tersedia bagi peserta tes pada banyak program tes berskala luas yang diselenggarakan oleh College Board.

sekian postingan saya hari ini, semoga bermanfaat. 


sumber:  Anastasi Anne, Urbina Susana., 2007. Tes Psikologi Edisi Ketujuh . Jakarta: PT Indeks. 

Sabtu, 08 Maret 2014

PSIKODIAGNOSTIK DAN PSIKOLOGI DIFERENSIAL


 PSIKODIAGNOSTIK   

  Psikologi berasal dari 2 kata yaitu psikologi dan diagnosa. Psikologi merupakan ilmu yang memahami jiwa melalui perilaku, sedangkan diagnostic berarti mencari untuk mengalami suatu pengetahuan/mencari tahu. Jadi, psikodiagnostik merupakan ilmu yang mempelajari / mencari tahu masalah perilaku yang muncul.
     Psikodiagnostik dilatarbelkangi oleh kebutuhan klinis yang dikenalkan oleh Herman Roschach. Herman Roschach mengkombinasikan antara psikologi dan seni, sehingga ia mencetuskan “Roschach inblot”. Diagnose ( greek: yunani)  berarti “ menganalisa”, mencari tahu sebab- sebab. Psikodiagnostik bukan merupakan bagian dari ilmu psikologi atau aliran-aliran dalam psikologi. Artinya tidak setara dengan psikologi sosial , dst. Melainkan ia sebagai proses, sebagai alat prasarana psikologi. Psikodiagnostik digunakan dalam pendidikan, klinis, research dan industry.
Aplikasi psikodiagnostik:
1.     Psikologi pendidikan
2.     Psikologi klinis
3.     Psikologi sosial
4.     Psikologi industri dan organisasi
5.     Psikologi umum dan eksperimen
6.     Psikologi perkembangan


PENGGUNAAN PSIKODIAGNOSTIK

1.CLINICAL SETTING : digunakan pada usaha mendeteksi gangguan psikis yg dialami individu/klien dan mengukur kemampuan/kekuatan pribadi yang dimiliki individu, sehingga dapat diterapkan pola terapi/treatment yang efektif. Contoh: di RS, pusat kesehatan mental, klinik-klinik konsultasi Psi.
2.LEGAL SETTING:penggunaan di pengadilan, rumah pemasyarakatan, tempat-tempat rehabilitasi yang berhubungan dengan masalah tindakan kejahatan, pusat rehabilitasi penderita narkotika.
3.EDUCATIONAL AND VOCATIONAL GUIDANCE : focus pemeriksaannya lebih ditekankan bidang pengembangan studi dan kerja. Digunakan di sekolah, universitas, pusat-pusat latihan dan pusat bimbingan karir.
4.EDUCATIONAL AND VOCATIONAL SELECTION :  digunakan untuk rekuitment diperusahaan dan bidang pekerjaan, penempatan, mutasi, dll.
5.RESEARCH SETTING:untuk kepentingan pengembangan ilmu dan pengmbangan tehnik serta metode diagnostic. Digunakan dilingkup akademik dan perguruan tinggi.

METODE PSIKODIAGNOSTIK

1.OBSERVASI
Suatu aktifitas dg sengaja dan sistimatis mengamati aktifitas individu dan tingkah laku individu dg menggunakan alat utama penyelidikan adalah : INDRA.
Situasi Observasi:
- Natural setting/alamiah
- Simulated Setting/Tiruan
- Laboratorium
            
Ditinjau dari aspek yang diobservasi/diamati:
- Event Sampling : yang diamati hanya beberapa aspek tingkah laku pada saat tertentu.
- Time Sampling: yang dicatat dan diamati adalah apa saja yang dilakukan individu pada waktu tertentu.
            
Klasifikasi Metode Observasi
· Non partisipan
· Partisipan
· Situasi eksperimen

2.     METODE ANGKET
Angket : suatu daftar pertanyaan yang harus dijawab dan atau daftar isian yang harus diisi yang berdasarkan pd sejumlah subyek atas jawaban atau isian tersebut.
Klasifikasi Angket :
·Berdasarkan atas siapa yang menjawab/mengisi
- Langsung
- Tidak langsung
· Berdasarkan bentuk
- Terbuka
- Tertutup
·  Berdasarkan factor/aspek yang diukur
-  Umum
-  Khusus
Kebaikan :
· Biaya relative murah
· Waktu lebih singkat
·  Dapat dilakukan pd subjek dg jumlah besar
·  Mudah digunakan dan dilaksanakan
Kelemahan :
·  Tidak mudah merumuskan terlebih dahulu masalah yang ingin diteliti
·  Bahasa mudah dipahami, tidak selalu mempunyai arti yang sama
·  Akurasi data kurang, bila mendapatkan informasi terlebih dahulu

3.METODE WAWANCARA

 Metode wawancara berdasarkan pada laporan verbal dimana terdapat hubungan langsung antara penyelidik dengan yang diselidiki. Wawancara adalah suatu situasi dimana terjadi pertukaran pandangan & informasi antara dua orang yang saling bertemu / berhubungan.

 PSIKOLOGI DIFERENSIAL

     Psikologi diferensial menguraikan tentang perbedaan-perbedaan antar individu dalam kecakapan, inteligensi, ciri-ciri kepribadian dan cara menentukan perbedaan tersebut.  Psikologi  diferensial mempelajari perbedaan-perbedaan kemampuan dan kegiatan dari individu. Setiap individu memiliki potensi dan kecakapan intelektual yang berbeda. Sebagian besar individu memiliki inteligensi yang tergolong normal, tetapi sebagian memiliki inteligensi tinggi dan sebagian lainnya rendah. Bakat individu berbeda-beda, seorang berbakat dalam bidang musik, yang lain lebih berbakat dalam bidang olah raga, atau teknik atau memasak dll.

sumber:  http://www.slideshare.net/elmakrufi/pengantar-psikodiagnostik dan berbagai sumber.

    



Kamis, 06 Maret 2014

HI... PSIKODIAGNOSTIK 1

Selamat malam teman- teman pembaca,


   Apa yang terlintas dalam pikiran kalian tentang Psikodiagnostik? apakah tentang pengukuran?, analisa?, diagnosa?, ya mungkin serangkaian pertanyaan tersebut akan segera terjawab di semester ini tentunya. sebelum memulainya, seperti biasa pada hari pertama mata kuliah Psikodiagnostik 1 oleh mas Seta Wicaksana harus menyepakati beberapa ketentuan yaitu:

1.   Disiplin waktu mencakup  absen dan keterlambatan maksimal 3 kali dalam satu semester. Masuk kuliah jam 08.30 dengan toleransi 30 menit. Lebih dari 30 menit terlambat berturut- turut maka secara otomatis mendapat nilai D.
2.  Tugas individu mencakup meriview materi hari ini, dan membuat ulasan untuk materi pertemuan  berikutnya serta dikomentari sendiri. Waktu  penulisan  4 hari.
3. Tidak ada kerja kelompok. Selama semester ini semua tugas akan dikerjakan secara individu.
4.   Dilarang menguap. Peraturan ini masih berlaku setiap ada kelas mas Seta. Mungkin peraturan yang satu ini dibuat karena  akan menular kali yaa? He…he…


Berikut materi- materi yang akan dipelajari semester ini:

Pertemuan 1: pengantar psikodiagnostik.
Pertemuan 2: psikodiagnostik dan psikologi diferensial.
Pertemuan 3: konsep dasar tes psikologi.
Pertemuan 4: tes individu dan populasi khusus dan tes minat.
Pertemuan 5: tes kemmpua mental.
Pertemuan 6: tes untuk populasi khusus.
Pertemuan 7: diskusi
Pertemuan 8: tes minat dan sikap
Pertemuan 9: tes projeksi dan kepribadian.
Pertemuan 10: tes projeksi dan kepribadian
Pertemuan 11: teknik observasi
Pertemuan 12: teknik wawancara.
Pertemuan 13: interpretasi tes psikologi.
Pertemuan 14: kode etik psikologi.

  Psikodiagnostik merupakan gabungan dari kata psikologi dan diagnosis. Psikologi merupan ilmu yang memahami  jiwa manusia melalui perilaku yang berinteraksi dengan lingkungan melalui proses belajar dan dilakukan secara menetap. Sedangkan diagnosis dalam psikologi yang sesungguhnya yaitu kemampuan observasi dan kemampuan wawancara ditambah dengan pengalaman.

  Psikodiagnostik sendiri mempelajari/ mencari tahu masalah perilaku muncul.
-         Describe : menggambarkan suatu masalah.
-         Explain   : menjelaskan masalah, sebab- sebab ,masalah.
-         Predict    : memprediksi melalui masalah sebelumnya.
-         Control   : mengontrol perilaku.

Semoga tulisan hari bermanfaat. selamat malam dan teta